Rokok (tidak) Tidak Berbahaya

a_cigarette_above_a_flameSudah beberapa bulan berselang sejak saya mencoba melihat rokok dari segi ekonomi. Kalau mau dilihat dari segi kesehatan, sebenarnya tidak butuh satu artikel untuk memberi tahu bahwa rokok berbahaya. Semua orang sudah tahu bahwa rokok berbahaya. Coba pilih satu orang secara acak yang sedang melintas di stadion Senayan, misalnya. Kalau ditanya apakah rokok itu berbahaya, 99% kemungkinan dia akan mengangguk. Coba tanya lagi, bahayanya apa kira-kira ya pak/buk/mas/mbak/dek? Menurut saya, kemungkinannya lebih dari 50% akan menjawab serangan jantung, kanker, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Bagaimanapun, itu lah yang digembar-gemborkan di setiap bungkus rokok yang dijual.

Memberi tahu rokok itu berbahaya memang mudah. Namun, membuat orang berhenti merokok karena tahu rokok itu berbahaya – itu seperti mengukur jarak dari Sabang sampai Merauke dengan bermodalkan penggaris 30 centimeter. Bukan tidak mungkin. Tapi susahnya minta ampun.  Kenapa susah? Karena lawannya adalah nikotin – zat aktif yang ada di dalam tembakau. Nikotin akan berinteraksi langsung dengan otak, bila dihirup, dalam hitungan detik – tepatnya 7 detik menurut para ahli. Atau, sekitar selama 5 kali detak jantung. Saat saya bilang berinteraksi langsung, hal ini berarti otak terpapar langsung dengan nikotin.

neon-brain

Dalam sekian banyak keajaiban otak, salah satu yang penting adalah bahwa tidak semua zat yang mendekat ke otak dapat berinteraksi langsung dengannya. Di dalam otak, terdapat sistem ketat yang memilah apa saja yang dapat mencapai otak. Beberapa zat yang dapat berinteraksi dengan otak, mereka memiliki jalur khusus, atau dalam istilah yang lebih ilmiah, reseptor. Mereka seperti tamu istimewa yang disambut dengan mobil khusus. Yah, setidaknya, bagi otak, nikotin adalah tamu istimewa. Saat nikotin sudah berinteraksi dengan otak, akan keluarlah zat yang disebut Dopamin. Saat dopamin diproduksi dalam otak, otomatis sang pemilik otak akan merasa bahagia. Dan, semua orang suka menjadi bahagia. Itulah sebabnya sangat susah menyuruh orang berhenti merokok. Dalam istilah lain, bagi para perokok mungkin sama saja dengan menyuruh mereka berhenti bahagia.

Nah, permasalahannya kemudian, seperti banyak jalan menuju Roma, banyak jalan pula menuju bahagia. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan dopamin terpancing keluar. Menghisap nikotin bukanlah satu-satunya cara untuk menjadi bahagia. Tapi kenapa setiap perokok merasa berat untuk meninggalkan rokok?

Ada beberapa penelitian yang berusaha menjelaskannya. Saya mencoba untuk membaca dan memahaminya, tetapi bukan tidak mungkin saya ternyata salah menangkap penjelasan dari jurnal yang memuat penelitian tersebut, karena bagi saya penjelasannya terlalu ilmiah dan rumit. Saya sangat menghargai bila ada yang bersedia mengkoreksi pernyataan saya berikut bila ternyata saya salah. Berikut link penelitian yang saya baca:

http://www.jneurosci.org/content/25/23/5563.full

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10336551

Saya sudah mengatakan bahwa ada reseptor untuk nikotin di dalam otak. Ada yang tahu berapa jumlahnya? Saya bertanya karena saya juga tidak tahu. Yang saya tahu, jumlah reseptor nikotin akan meningkat menjadi semakin banyak apabila reseptor tersebut bolak-balik bertemu dengan nikotin. Dan bolak-balik bertemu nikotin ini tak lain tak bukan adalah bolak-balik merokok. Dengan merokok terus-menerus, jumlah reseptor nikotin dalam otak akan meningkat.

Dunia kedokteran tidak pernah mengatakan bahwa otak adalah organ yang sederhana. Jadi mohon maaf kalau bahasa yang saya gunakan pun tak bisa lebih sederhana lagi. Walaupun otak bukan organ terbesar dalam tubuh, tapi pembagiannya adalah yang paling rumit. Yang paling dasar, otak bisa dibagi menjadi otak depan, otak tengah, otak belakang, dan sumsum tulang belakang. Pembagian tersebut pun masih dibagi lagi. Tapi bagian otak yang mana termasuk yang depan, tengah, dan belakang tidak akan saya sebutkan disini karena saya sendiri juga sudah lupa. :P

Jadi menurut salah satu penelitian yang saya coba baca, peningkatan jumlah reseptor nikotin di daerah otak depan dapat mengubah efek yang dimiliki nikotin terhadap si perokok. Lebih spesifiknya, sel saraf si perokok, sehingga meningkatkan efek stimulan pada sistem saraf (yang berarti dapat meningkatkan performa kerja sistem saraf). Hal ini seperti menambah kecepatan jaringan fiber optic. Transfer data yang menjadi lebih cepat itu ibarat manusia yang dapat berfungsi menjadi lebih cepat dan lebih baik. Namun, penambahan jumlah reseptor ini juga akan mengubah reaksi perokok terhadap si nikotin. Akan terjadi perubahan fisiologis dan psikologis bila tidak mendapat asupan nikotin. Apabila nikotin tidak tersedia, selain sistem saraf yang rasanya bekerja menjadi lebih lamban, badan terasa menjadi tidak enak dan emosi pun berubah.

Sebenarnya, saat dibilang rokok itu berbahaya, yang paling berbahaya bukan nikotin-nya. Tetapi zat-zat lain yang ada di dalam rokok. Pertanyaannya kemudian, apa saja yang ada di dalam rokok? Semua banyak mengatakan ada 4.000 lebih zat kimia berbahaya di dalam rokok, mulai dari yang namanya sedikit familier seperti amonia sampai yang bahkan sulit untuk diucapkan glycyrrhizin.

Tapi menurut saya, yang terdapat di dalam rokok secara gamblang bisa dijawab dengan singkat. Hanya 2. Bukan 4.000, tetapi 2. Baik sebelum dibakar maupun setelahnya, rokok memiliki dua komponen. Sebelum dibakar, 2 komponen tersebut adalah bahan adiktif dan bahan aditif. Walau namanya mirip, tetapi artinya tidak sama. Adiktif – memiliki akar kata Latin dicere yang serupa maknanya dengan diktator atau mendikte. Secara umum, semua orang mengenal arti kata adiktif sebagai sifat kecanduan. Sementara aditif berarti merupakan zat tambahan.

Untuk bahan adiktif, tentu saja pemerannya hanya satu: tembakau yang mengandung nikotin. Sementara untuk bahan aditif, pemerannya macam-macam. Perannya pun macam-macam. Ada yang berperan sebagai pengatur tingkat keasaman rokok (sebagai informasi, rokok yang memiliki tingkat keasaman rendah – dengan kata lain bersifat basa – akan memiliki tingkat nikotin bebas yang lebih tinggi sehingga apabila dibakar dan dihisap, akan terasa lebih ‘nendang’. Peran lainnya yaitu penambah rasa, pemanis, pelembab, pengatur pembakaran (supaya pembakaran tidak terlalu cepat atau lama dan asap yang dihasilkan menjadi lebih halus), pengatur porsi tar dan nikotin, pengawet, pengisi supaya lebih padat, dan pelarut.

Mengapa dibutuhkan begitu banyak zat tambahan? Saya pernah bertanya-tanya demikian. Mungkin, saya ingin menjawab sendiri pertanyaan saya demikian: cara mengkonsumsi rokok adalah dengan membakarnya. Dan bahan-bahan yang dapat dibakar harus mempunyai zat hidrokarbon – senyawa dengan hidrogen dan karbon. Nah, rumus bangun kimia nikotin adalah alkaloid – senyawa dengan hidrogen, karbon, dan nitrogen. Dengan demikian, nikotin mungkin tidak dapat terbakar begitu saja. Dibutuhkan zat lain untuk membantu pembakarannya (mungkin). Dan untuk mengantarkan bahan aktif nikotin yang telah dibakar dan terdispersi ke pembuluh darah, juga dibutuhkan  zat lain. Saya bukan ahli kimia, jadi tidak begitu paham. Hanya mencoba untuk menganalisa mengapa dibutuhkan begitu banyak zat tambahan untuk mengkonsumsi rokok.

Sementara setelah dibakar, rokok akan menghasilkan dua bahan berbahaya: tar dan karbonmonoksida. 

Karena artikel ini menurut saya sudah cukup bikin kepala sedikit berputar bagi saya untuk mengumpulkan bahan, dan mungkin juga bagi yang membaca, mungkin cukup untuk sementara dan akan saya lanjutkan lagi kemudian.

2 comments on “Rokok (tidak) Tidak Berbahaya

  1. marchell tifani says:

    bagus banget dok…. mana lanjutan nya? heheheh

  2. hehehe, ok,, I I’ll try to make it for you, fani… please wait for a while… :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s