Antara Pemanasan Global dan Kalkulator Sahabat Lingkungan

Post ini mengutip Majalah Intisari Edisi April 2012 (No. 592) halaman 140 – 143

Hari ini cuaca di Jakarta panas sekali. Tiga hari terakhir pun demikian. Rasanya tidak ada satu minggu atau bahkan satu hari yang lewat tanpa mendengar atau mengucapkan keluhan cuaca panas. Dan setiap orang di belahan bumi Indonesia mungkin mengiyakan kalau ditanya apakah cuaca belakangan tambah panas.

Ketika mencoba mencari tahu berapa suhu bumi sekarang, saya agak bingung. Yang saya kunjungi adalah artikel State of The Climate – Global Analysis March 2012 di sebuah website pemerintah milik Amerika. Saya menemukan istilah rumit seperti temperature anomalis dan grafik-grafik yang juga entah apa artinya. Satu hal yang coba saya pegang adalah kalimat yang bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia berbunyi seperti ini:

“Rata-rata suhu global laut dan daratan untuk bulan Januari – Maret 2012 adalah 0,39°C lebih tinggi dari rata-rata suhu di abad 20.”

Intinya, suhu meningkat sekian derajat celcius. Rasanya angka 0,39 ini kecil sekali, tapi entah kenapa rasanya bumi sudah jauh lebih panas dari biasanya.

Kemudian saya membaca dari wikipedia.org mengenai pemanasan global.  Berdasarkan referensi The Physical Science Basis, Intergovernmental Panel on Climate Change, 5 Februari 2007, dikatakan “Tahun 2100, suhu permukaan global akan meningkat hingga 6,4°C.”

Saya mungkin tidak begitu paham akan ilmu bumi dan sebagainya. Tetapi bila menggunakan logika, dengan peningkatan suhu 0,39°C pada saat ini saja sudah sepanas ini, perkiraan peningkatan suhu sebesar 6,4°C  pada tahun 2100 rasanya seperti kabar buruk yang sangat buruk.

Kemudian saya teringat salah satu artikel yang sempat saya baca di Majalah Intisari yang telah saya sebut di atas. Artikel tersebut mencoba mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap masalah emisi gas rumah kaca, yang ujungnya pada pemanasan global. Sebuah artikel yang menurut saya harus disebarkan, sebagai pencegahan supaya kabar buruk tadi tidak terjadi. Setidaknya diminimalisir  sebisa mungkin.

————————————————————————————————————————————————–

Artikel berjudul Kalkulator Sahabat Lingkungan ini ditulis oleh Nur Resti Agtadwimawanti dan Fenny Christine.

“Perubahan gaya hidup dapat mengurangi emisi gas rumah kaca. Perubahan gaya hidup dan pola konsumsi yang menekankan konversi sumber daya dapat berkontribusi untuk mengembangkan ekonomi yang rendah karbon yang adil dan berkelanjutan,” (Intergovernmental Panel on Climate Change Assessment Report, 2007).

Mungkin sebagian dari kita tak menyadari bahwa gaya hidup dan pola konsumsi tertentu yang kita praktikkan sehari-hari ternyata ikut andil dalam mempercepat pemanasan global. Mudah saja, misalnya penggunaan kendaraan pribadi. Berdasarkan data Technology Needs Asessment pada 2009, kendaraan pribadi menyumbang setidaknya 36% emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi di Indonesia.

Lain lagi sektor energi, sebut saja listrik. Pemakaian listrik menyumbang 12% dari total emisi karbon untuk sektor energi. Ini terjadi karena sebagian besar pembangkit listrik kita masih menggunakan bahan bakar fosil seperti batu bara yang menghasilkan jutaan ton CO2.

“Setiap orang punya andil menyumbang, bukan hanya perusahaan-perusahaan besar di sektor industri saja. Tetapi kita semua,melalui gaya hidup kita sehari-hari,” jelas Imelda, Koordinator Program Institute for Essential Service Reform (IESR).

Itu sebabnya IESR gencar mengampanyekan pola hidup hijau dalam urusan sehari-hari untuk mewujudkan low carbon society atau masyarakat dengan gaya hidup rendah karbon. Menjadi low carbon society sebenarnya tidak sulit, kita bisa memulainya dengan membatasi penggunaan barang elektronik. Misalnya, menyalakan lampu seperlunya saja.

Untuk mendukung proses itu, pada 2010 IESR menciptakan sebuah alat yang bernama Kalkulator Jejak Karbon (KJK). Kalkultor ini berguna untuk memandu kita dalam menghitung jumlah emisi yang kita hasilkan dalam kehidupan sehari-hari (sebagai contoh, menyalakan lampu 10 watt selama 1 jam akan menghasilkan karbon sejumlah 8,91 g).  “Animonya bagus sekali, ternyata ada loh alatnya. Kita juga menjadi sadar bahwa sebenarnya kita berperan dalam mengeluarkan emisi dalam kehidupan sehari-hari,” kata Imelda. KJK ini pun bisa diakses siapa saja secara online di www.iesr.or.id.

Sadar pun tak cukup

Imelda paham betul bahwa sekadar sadar saja ternyata tak cukup. Perlu tingkatan yang lebih tinggi daripada sadar itu sendiri, yaitu komitmen. “Kalau kita hanya sadar, kita tak akan berubah. Berbeda kalau kita memang berkomitmen untuk menurunkan emisi dalam kehidupan kita,” jelasnya.

Melalui KJK pula, IESR mencoba mengajak masyarakat untuk memulai berkomitmen dalam menurunkan emisi.  Jika melihat formulir komitmen menurunkan emisi yang dikumpulkan IESR, hanya ada sekitar 1.000 orang yang bersedia, utnuk area Jakarta – Depok. Tentu ini angka yang kecil dibandingkan dengan populasi di sana. Imelda juga menyadari bahwa ‘euforia’ tentang perubahan iklim sebagian besar ada di kalangan NGO atau pemerintah. Sementara, di kota-kota kecil belum terlalu memasyarakatkan.

Perubahan iklim memang isu yang cukup tinggi. KJK ini bisa jadi merupakan salah satu cara mengedukasi masyarakat dengan cara yang unik. Dengan demikian, masyarakat juga tak malas untuk mempelajarinya.

Tak Hanya Karbondioksida

Imelda menjelaskan, sebenarnya gas rumah kaca itu bukan semata CO2. CO2 ini hanya seuah gas yang dijadikan parameter. Setidaknya ada 6 jenis gas rumah kaca yang tertulis dalam Kyoto Protocol, yaitu Karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitro-oksida (N2O), hidro fluoro klorida (HFC), perfluorokarbon (SF6).

Semua gas ini punya masa urai yang berbeda di atmosfer. CO2, misalnya, bertahan 5.200  tahun di atmosfer, sedangkan CH4 12 tahun.

Selain itu, ada pula potensi pemanasan global yang disebabkan gas rumah kaca tadi. Misalnya antara CO2 dan CH4. Satu ton CH4 ini memiliki potensi pemanasan global sebesar 72x lebih berbahaya dibandingkan satu ton CO2. CH4 ini sering kita jumpai dalam limbah industri.

“Sebenarnya kalau secara kolektif, CH4 ini mempunyai potensi sebagai biogas. Untuk pupuk juga bisa,” tambah Imelda. Kita bisa juga memanfaatkan penghasil gas rumah kaca tadi dengan sebaik mungkin, yang tentunya ramah lingkungan.

Jadi, masalahnya tidak sebatas berapa emisi yang kita hasilkan dan berapa pohon yang perlu kita tanam untuk menggantinya. Ini melibatkan sejarah dan masa depan.

“Sebab CO2 yang dihasilkan berapa puluh tahun yang lalu pun belum tentu telah terurai,” jelas Imelda. Begitu pula CO2 yang kita hasilkan saat ini belum tentu terurai beberapa puluh tahun ke depan. Jadi, tindakan pencegahan jelas lebih baik.

————————————————————————————————————————————————–

Catatan:

Animo: Hasrat yang kuat untuk berbuat, melakukan, atau mengikuti sesuatu ; Semangat (http://www.artikata.com/arti-319094-animo.html)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s