Aside
0

Image

Kalau skema rokok adalah sebuah ring tinju dimana petarungnya adalah Ekonomi di sisi merah dan Kesehatan di sisi biru, kira-kira siapa yang akan memenangkan pertandingan?

Mungkin pertandingan bisa berlangsung kusut dan kolot – seperti sekarang dimana sekian banyak promosi rokok terus disambut kampanye anti rokok. Namun, mungkin pemenang dari pertandingan ini sudah ditentukan dari awal secara gamblang – mengingat sampai saat ini masih belum ada wasit yang kompeten untuk memimpin jalan pertandingan secara adil (baca: pemerintah). Tidak adil untuk siapa? Semua sudah tahu jawabannya.

Saat ini, saya mau mencoba melihat masalah rokok dari kedua belah pihak. Tentu yang pertama dari pihak ekonomi. Jujur, saya tidak cukup mengerti masalah ekonomi. Tapi saya merasa ada yang cukup aneh dari fenomena industri rokok yang selalu mengeluarkan dalih berbau ekonomi demi keberlangsungan nyawa industri rokok.

Kalau masalah rokok selalu dikaitkan dengan tindakan mengatasnamakan ekonomi – seperti bagaimana dengan nasib para petani dan pekerja yang menggantungkan hidup mereka pada industri rokok yang katanya mencapai 8 juta orang di Indonesia dan lagi mereka juga memiliki keluarga untuk dinafkahi – lantas siapa yang memikirkan nasib keluarga dari mereka yang meninggal karena penyakit akibat merokok?

Pihak lembaga resmi pengawas makanan dan obat di Amerika (FDA) pernah mengeluarkan pernyataan bahwa rokok adalah satu-satunya produk konsumen yang bila dipakai sesuai dengan tujuannya, akan membunuh setengah dari total konsumen yang setia mengkonsumsinya dalam jangka panjang.

Lalu pada bulan Juni 2012, di situs menkokesra.go.id terdapat berita  bahwa menurut data WHO terakhir, jumlah perokok di Indonesia menduduki peringkat ketiga terbanyak di dunia. Dari sekitar 1,3 miliar perokok di dunia, sekitar 4,8% dari angkat tersebut berasal dari Indonesia. Dan angka 4,8 % dari 1,3 miliiar adalah 62.400.000.

Kalau pernyataan FDA dan WHO digabung dan ditelaah secara matematika, dengan diketahui jumlah perokok di Indonesia diperkirakan mencapai 62.400.000 perokok – berapakah yang akan menjadi korban?

Jawabannya cukup mudah. Setengah dari sekitar 60 juta berarti ada sekitar 30 juta perokok yang akan menjadi korban.

Kemudian, siapa yang akan mengatasnamakan anak istri atau suami dari 30 juta perokok yang menjadi korban? Bagaimana dengan nasib mereka?

Bila angka 8 juta orang dibayar dengan angka 30 juta orang, ekonomi siapa yang sebenarnya diuntungkan?

Image

Selama ini, industri rokok dibanggakan sebagai pembangun ekonomi dengan menyumbang pajak yang besar untuk negara, membangun sekolah, yayasan olahraga, bahkan pusat perbelanjaan. Dan tentu saja uang tersebut berasal dari para konsumen yang membeli rokok dengan setia. Saat mereka membeli rokok, mereka secara tidak langsung ikut membangun ekonomi negara. Sayangnya, para perokok di Indonesia kebanyakan masih berasal dari kalangan menengah ke bawah.

Dalam pelajaran ekonomi, dikenal kebutuhan primer, sekunder, dan tersier.  Rokok tidak termasuk dalam kebutuhan primer (yang selalu dikenal dengan trias sandang, pangan, papan). Pun tidak masuk dalam kebutuhan sekunder. Sayangnya, tanpa menggubris kebutuhan primer dan sekunder, penghasilan yang minim pun biasanya masih tetap dianggarkan untuk  biaya rokok – yang mungkin bagi para perokok sudah bertransformasi dari kebutuhan terakhir menjadi kebutuhan primer.

Penghasilan yang dihabiskan untuk membeli rokok daripada membayar pendidikan anak, untuk membeli susu anak, atau mainan baru bagi anak itulah yang kemudian dinikmati menjadi pajak besar bagi negara, jadi pusat perbelanjaan, jadi sekolah, jadi yayasan olahraga, juga jadi sponsor acara olahraga dan musik.

Saat anak tidak mendapat pendidikan, kemana nasibnya akan menuju? Saat itulah pemerintah dituntut untuk mengadakan sekolah gratis dan bantuan dana pendidikan. Akhirnya anggaran negara harus diperbesar untuk kepentingan pendidikan masyarakat.

Saat perokok jatuh sakit (dimana penyakit akibat merokok sangat beragam dari penyakit jantung, paru, kanker paru, kanker hati, kanker usus, kanker  kandung kemih, katarak, dan masih banyak) dan akhirnya tidak dapat mencari penghasilan, kemana nasibnya akan menuju? Saat itulah pemerintah dituntut untuk mengadakan pelayanan kesehatan gratis dan bantuan dana kesehatan. Akhirnya anggaran negara harus diperbesar untuk kepentingan kesehatan masyarakat.

Jadi, ekonomi negara sebenarnya dibangun atau dikuras? Lebih pokok lagi, industri rokok sebenarnya membangun ekonomi atau merampok generasi?

Mungkin ada pihak yang akan berkelit bahwa tidak semua perokok di Indonesia adalah perokok jangka panjang, sehingga seharusnya angka korban harusnya menjadi lebih rendah – sehingga kerugian ekonomi yang disebabkan juga menjadi lebih rendah. Dan bahkan mungkin ada yang mempertanyakan kebenaran pernyataan tersebut. Benarkah rokok akan membunuh setengah dari total konsumennya? Lebih parah lagi, ada yang mempertanyakan, benarkah rokok membunuh?

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s