Lilin untuk Angelin – 1

IMG_2873

Izinkan saya membagi apa yang saya lihat malam ini. Mungkin semua media digital malam ini sudah menuliskannya. Karena saat saya berada di bundaran HI, banyak yang menenteng kamera  digital maupun video kelas kakap.

Saat kemarin mendapat terusan berita bahwa akan diadakan gerakan 1000 lilin untuk anak Indonesia, saya sempat ragu. Apakah gerakan ini mampu menjangkau hati berlapis-lapis masyarakat, dan membawa perubahan? Atau hanya menjadi target media dan kemudian memberikan pekerjaan tambahan untuk membersihkan noda lilin dari bundaran HI.

Syukurlah saya bisa ikut merapat ke bundaran HI saat acara dilangsungkan. Lalu, entah bagaimana, saya baru sadar bahwa ternyata diri sendiri pun begitu. Sibuk mendokumentasikan lilin-lilin dan orang-orang yang berkumpul. Juga karangan bunga yang telah terangkai indah.

IMG_2853

 

Baru sadar bahwa saya ingin pasang di Instagram, ingin membagi di Facebook. Dalam hati, mengincar jumlah acungan jempol untuk tampilan foto yang saya unggah. Baru kemudian saya sadar, bahwa saya datang untuk sebuah alasan lain. Untuk ikut menyalakan lilin buat Angelin.

Di situ baru saya kemudian bisa benar-benar menghayati malam di bundaran HI. Saat semua orang dari berbagai organisasi, berbagai golongan, datang. Bergantian berdoa. Dimulai dari pak Ustad yang membacakan doa, dan diikuti oleh seorang Pendeta yang juga memanjatkan doa. Yang menarik adalah saat seseorang mendaraskan lagu “Pujilah Tuhan… pujilah nama-Nya… Praise the Lord, my soul, and praise His Holly Name…”

Lagu Taize yang cukup familier membuat saya mengambil kesimpulan bahwa bapak yang menyanyikan lagu ini adalah seorang Katolik. Yang saya kaget adalah ketika melihat sang Ustad ikut bernyanyi lagu taize tersebut bersama si bapak Katolik. Dari gerakan bibirnya yang tidak penuh ragu, rasanya ia sudah mengenal lagu itu. Sungguh indah menyaksikan golongan-golongan yang berbeda bisa saling menikmati keberadaan satu sama lain demi tujuan yang baik.

Sayang saya tidak bisa lama berada di sana. Tapi ketika saya berbalik untuk mulai meninggalkan bundaran HI, disitulah saya mendapat banyak pelajaran. Saya melihat 3 orang laki-laki jangkung. Muka mereka dingin. Dengan penampilannya, bisa jadi mereka preman. Tapi begitu melihat air muka mereka, saya tahu mereka sedang memberikan penghormatan. Mata saya menyapu lagi kerumunan yang akan saya tinggalkan. Kali ini saya melihat seorang bule datang dengan baju dan celana warna hitam, tanda berkabung.

Angin malam itu membuat beberapa kali lilin-lilin ini padam. Berulang kali lilin harus dinyalakan kembali dengan meminjam bara dari lilin di sebelahnya yang masih terus bernyala.

Baru saya sadari apa arti ini semua, saat saya hendak pergi.

Bahwa gerakan 1000 lilin untuk anak Indonesia tidak sekedar menyalakan lilin dengan korek dan menyusunnya saja. Kita lah sang lilin. Kita, yang menyalakan lilin, adalah sang lilin.

Bahwa gerakan untuk perlindungan anak perlu datang dari setiap lapisan, golongan, dan organisasi masyarakat. Bahwa siapapun bisa jadi tergerak untuk bergerak.

Bahwa gerakan ini bisa kembali padam dan tidak membawa perubahan apa pun. Bahwa saat kita tergerak, kita perlu menularkannya kembali kepada yang lain. Agar semua peduli. Agar semua lilin tetap bernyala.

 

Jadi, semoga tulisan ini dapat menjadi refleksi nyala lilin untuk Angelin…

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s