Menyambut Flu dan Musim Hujan

hujan
Melihat hujan turun secara merata hari ini rasanya senang sekali, apalagi beberapa hari ini Jakarta panasnya minta ampun. Mungkin benar ramalan BMG bahwa musim hujan akan mampir di pertengahan hingga akhir November ini.

Selain waktunya berdoa semoga bencana asap segera reda dengan datangnya hujan, mulai menyiapkan payung di tas, sekarang juga sudah waktunya berjaga dengan musim flu.

Sebenarnya di daerah tropis, kejadian flu cenderung stabil sepanjang tahun. Tapi berhubung musim kemarau tahun ini sangat kering, musim hujan yang lembab bisa jadi meningkatkan angka kejadian flu, terutama hingga kuartal awal tahun depan.

daerah wilayah tropis – sumber: theconversation.com

Biasanya, mereka yang kena flu tidak segan-segan meminta antibiotik pada saat mereka berobat, dan beberapa biasa membeli sendiri di apotek atau toko obat. Praktik antibiotik terlalu dini ini sudah mulai dilakukan dari awal sejak Alexander Flemming menemukan antibiotik pertama di dunia. Penemuan penicilin tahun 1928 langsung memperbaiki angka kematian dan kesakitan dari banyak penyakit yang dahulu memang didominasi oleh penyakit infeksi bakteri. Sayangnya, lama-lama antibiotik menjadi obat wajib karena banyak yang merasa belum ‘sah’ kalau belum dapat antibiotik waktu berobat.

Percaya atau tidak, Flemming sendiri sudah memprediksikan akan datang saatnya dimana obat yang ditemukannya akan kehilangan efek terhadap infeksi bakteri. Karena bakteri akan ‘mempelajari’ cara kerja antibiotik dan berevolusi untuk mengatasinya. Artinya, bakteri memiliki bakat untuk menjadi kebal terhadap antibiotik. Dan benar saja, dengan praktik antibiotik yang sekedar menjadi obat rutin, sekarang sudah banyak bakteri yang mengalami resistensi atau kekebalan terhadap berbagai antibiotik.

Percaya atau tidak lagi, berbagai penelitian sudah dilakukan untuk meneliti efek antibiotik terhadap penyakit flu atau infeksi saluran pernafasan atas yang beken dengan sebutan ISPA, atau batuk pilek. Dan semua menyimpulkan bahwa tidak pada tempatnya antibiotik diberikan terlalu awal dalam perjalanan penyakit flu. Kesimpulan lain adalah tidak ditemukan perbedaan dari lama gejala flu antara mereka yang diberikan antibiotik dengan mereka yang tidak.

Alasan utama adalah karena hampir semua flu disebabkan oleh virus, bukan bakteri. Dan antibiotik memiliki efek hanya terhadap bakteri, tidak ada efek terhadap virus. Ada beberapa orang yang mengaku bahwa kalau flu, dengan minum antibiotik rasanya lebih cepat sembuh. Sekali lagi, sudah ada penelitian yang mempelajari ribuan pasien; dan hasil yang didapat adalah tidak ada cukup bukti bahwa pemberian antibiotik memiliki manfaat terhadap perjalanan penyakit flu, baik kepada dewasa atau anak-anak. Selain itu, malah ada peningkatan efek samping yang signifikan terkait dengan pemberian antibiotik.

Karena flu sudah biasa, beberapa orang merasa aneh dan lemah rasanya kalau sampai harus istirahat total (bedrest) dan absen dari pekerjaan atau sekolah hanya karena flu, padahal memang mereka benar-benar merasa sakit. Yang lain malah memanfaatkan flu sebagai alasan untuk istirahat walaupun sebenarnya gejala yang ada sekedar meler dan gatal di tenggorokan.

Memang ada 2 tipe flu: tipe common cold dan flu yang sebenarnya/influenza.

  • Tipe common cold kadang disebut sebagai selesma. Gejalanya antara lain meler, hidung tersumbat, batuk-batuk, gatal atau sakit tenggorokan, badan terasa agak hangat, sama pegal-pegal di badan dan anggota gerak. Ada lebih dari 250 virus yang sudah terbukti dapat menimbulkan common cold. Gejala penyakit ini biasanya timbul secara perlahan dan akan sembuh sendiri dalam kurun waktu 10 hari. Virus MERS yang sempat mewabah di Korea Selatan tahun ini sebenarnya termasuk kelompok virus yang dapat menimbulkan common cold.
  • Sedangkan flu yang sebenarnya (influenza) disebabkan oleh hanya 1 keluarga virus, yaitu virus influenza, ada tipe A, tipe B, dan tipe C. Namun tipe C tidak pernah menimbulkan wabah flu sehingga banyak dikatakan penyebab flu adalah 2 tipe virus yaitu Virus Influenza tipe A atau tipe B. Wabah flu yang pernah ada di dunia, seperti flu babi adalah sub tipe dari tipe A virus Influenza.

    sumber: drbrianbenedict.files.wordpress.com

Untuk tipe flu yang sebenarnya ini, gejalanya kurang lebih sama seperti common cold tapi munculnya lebih mendadak. Baru satu dua hari, sudah berat gejalanya. Selain itu panasnya cenderung lebih tinggi dibanding common cold (bisa lebih dari 39°C). Untuk flu ini, memang harus pakai istirahat. Pada individu yang sehat, sebenarnya penyakit ini juga akan sembuh sendiri, tetapi pada mereka yang daya tahan tubuhnya lemah karena beberapa penyakit tertentu seperti HIV/AIDS, kencing manis, atau penyakit kronis lainnya, atau sudah ada masalah pada paru-paru sebelumnya, flu ini dapat berakibat fatal.

Nah, buat yang daya tahan tubuhnya normal, karena antara common cold dan flu akan sembuh sendiri, cukup minum obat untuk mengurangi gejala tanpa minum antibiotik kecuali ada indikasi yang mendukung. Minum obat pun harus disesuaikan dengan gejala yang ada. Kalau tidak ada batuk, jangan minum kemasan obat flu yang ada obat batuknya.

sumber: abcnews.go.com

Obat-obat flu biasanya dapat dibeli bebas di apotek, tapi tidak diperbolehkan untuk anak di bawah umur 2 tahun. Di Amerika, pada tahun 2007, FDA (semacam badan POM di sana) menarik obat-obat flu untuk bayi dari pasaran OTC / over the counter (obat bebas). Obat flu untuk dewasa dan anak-anak pun diberi label peringatan agar tidak diberikan pada mereka yang di bawah 2 tahun, karena efek samping yang dapat berakibat fatal seperti kelainan irama jantung, kejang, penurunan kesadaran, bahkan sampai kematian.

Nah, sering denger saran untuk konsumsi vitamin C atau Echinacea saat flu demi mengurangi tingkat keparahan flu dan mempercepat penyembuhan?

Perdebatan vitamin C dapat mencegah dan meringankan penyakit flu sudah terjadi lebih dari 70 tahun. Sementara Echinacea sendiri sebenarnya adalah herbal yang turun temurun digunakan oleh suku Indian Amerika asli untuk pengobatan gejala pernafasan. Tahun 1916 sampai 1950, Echinacea sempat resmi masuk ke dalam formularium (daftar obat nasional resmi) Amerika. Tetapi dengan penemuan antibiotik dan kurang bukti klinis untuk khasiat herbal ini, popularitasnya mulai turun. Sekarang, banyak orang mulai melirik lagi karena fakta bahwa antibiotik tidak membantu perjalanan penyakit flu.

sumber: pharmapoli.com

Sekarang ini, sudah cukup banyak studi klinis yang mempelajari efek keduanya.  Walaupun masih ada simpang siur hasil yang didapatkan antar studi, beberapa penelitian maupun guideline merekomendasikan penggunaan keduanya dengan beberapa catatan tertentu. Untuk vitamin C, dalam studi bertahun-tahun melibatkan ribuan peserta, setelah menganalisis hasil yang ada serta fakta bahwa vitamin C tidak mahal dan relatif aman, penggunaan vitamin C pun mendapat rekomendasi. Tapi efek vitamin C yang positif dapat dinikmati bila dikonsumsi secara rutin, baik pada dewasa maupun pada anak-anak usia 4 tahun ke atas. Efek positifnya konsumsi rutin dapat memperpendek lama gejala flu. Guideline kedokteran keluarga di Amerika tahun 2012 merekomendasi konsumsi sekitar 40 hari hingga 28 minggu. Jadi kalau mendadak flu lalu baru minum vitamin C, ngga akan ada pengaruhnya menurut studi ilmiah. Nah, untuk menyambut musim flu, ada baiknya yang ngga biasa minum vitamin C, bisa coba minum vitamin C.  Dosis yang dianjurkan untuk pencegahan pada dewasa adalah 250 – 1000 mg/hari. Tidak direkomendasikan lebih dari itu, dan batas maksimum adalah 2000 mg/hari.

Sedangkan untuk Echinacea, masih belum ada kesepakatan resmi, tetapi memang banyak studi ilmiah menyebutkan bahwa konsumsi Echinacea di awal perjalanan penyakit, dalam arti saat gejala baru muncul dapat menurunkan tingkat keparahan gejala. Namun resminya, semua masih menyimpulkan masih belum ada cukup bukti klinis untuk merekomendasikan Echinacea.

Dan yang juga sedang banyak dipromosikan adalah vaksin influenza. Sejak virus influenza ditemukan tahun 1933, sejak tahun 1942 vaksin untuk influenza sudah mulai diperkenalkan. Dan tahun 1973 WHO mulai merekomendasikan vaksin influenza setahun sekali, karena ada perbedaan penyebab flu  oleh tipe virus Influenza dan galurnya yang selalu berganti tiap tahun. Tahun 2010, CDC merekomendasikan vaksinasi flu secara universal di Amerika bagi mereka yang berusia 6 bulan ke atas, terutama bagi mereka yang lanjut usia, mengalami penurunan daya tahan tubuh, dan ada penyakit paru sebelumnya. Bagaimana di Indonesia? Masih belum ada rekomendasi resmi dari berbagai institusi resmi, tetapi ikatan dokter anak Indonesia (IDAI) mulai memberikan edukasi mengenai vaksinasi untuk influenza sebagai rekomendasi optional, bukan wajib.

sumber: sharpschool.com

Yang sudah divaksinasi flu, mungkin masih bisa mengalami gejala flu ringan, karena vaksin tersebut tidak melindungi terhadap 250 virus yang dapat menyebabkan common cold.

Flu memang dapat diobati sendiri, tapi kalau sudah ada gejala seperti ini, lebih baik langsung memeriksakan diri ke dokter, antara lain

  • panas lebih dari 38.4°C tidak membaik dengan obat penurun panas lebih dari 3 hari
  • hidung tersumbat lebih dari 2 minggu
  • tidak bisa makan dan minum
  • sesak atau dan nyeri dada
  • telinga sakit, terasa
  • ada gejala lain di luar gejala flu

Terutama untuk bayi, bila sudah malas minum, segera dibawa ke dokter. Pada anak-anak di bawah 2 tahun, jangan diberikan obat untuk flu secara bebas. Pemberian minum juga secukupnya saja, jangan berlebihan karena pada beberapa kasus dapat menimbulkan hiponatremia (salah satu kelainan elektrolit dalam darah).

Sudah cukup panjang ya tentang flu, semoga dapat bermanfaat. Pencegahan selalu lebih baik, antara lain dengan menutup hidung saat batuk atau bersin, (bila memungkinkan) mengurangi kontak dengan yang sedang sakit atau mengenakan masker, tidak memegang hidung dan muka sembarangan, dan mencuci tangan setelah dari luar rumah. Tolong diingat juga tidak usah buru-buru minta antibiotik kalau ke dokter.

post_eaad_message

Catatan terakhir, info ini tidak untuk menggantikan praktik kedokteran. Bila hendak mengkonsumsi vitamin C atau Echinacea dan ada obat lain yang diminum, silakan konsultasi lebih dulu ke dokter atau apoteker.

Terima kasih sudah membaca sampai akhir🙂

Selamat menjelang musim hujan, semoga tetap sehat selalu!

Sumber penelitian antibiotik tidak direkomendasikan (bahasa Inggris): http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12137610)

Sumber rekomendasi OTC tidak untuk anak bawah 2 tahun (bahasa Inggris): http://www.fda.gov/ForConsumers/ConsumerUpdates/ucm048682.htm

Sumber penelitian dan rekomendasi vitamin C (bahasa Inggris):

  1. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23440782
  2. http://www.aafp.org/afp/2012/0715/p153.html

Sumber penelitian Echinacea (bahasa Inggris): https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/natural/981.html

Sumber rekomendasi vaksin influenza (bahasa Inggris dan bahasa Indonesia):

  1. http://www.cdc.gov/flu/protect/keyfacts.htm
  2. http://www.medscape.com/viewarticle/812621
  3. http://idai.or.id/wp-content/uploads/2014/08/IVO-Influenza-.pdf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s