0

Menyambut Flu dan Musim Hujan

hujan
Melihat hujan turun secara merata hari ini rasanya senang sekali, apalagi beberapa hari ini Jakarta panasnya minta ampun. Mungkin benar ramalan BMG bahwa musim hujan akan mampir di pertengahan hingga akhir November ini.

Selain waktunya berdoa semoga bencana asap segera reda dengan datangnya hujan, mulai menyiapkan payung di tas, sekarang juga sudah waktunya berjaga dengan musim flu.

Sebenarnya di daerah tropis, kejadian flu cenderung stabil sepanjang tahun. Tapi berhubung musim kemarau tahun ini sangat kering, musim hujan yang lembab bisa jadi meningkatkan angka kejadian flu, terutama hingga kuartal awal tahun depan.

daerah wilayah tropis – sumber: theconversation.com

Biasanya, mereka yang kena flu tidak segan-segan meminta antibiotik pada saat mereka berobat, dan beberapa biasa membeli sendiri di apotek atau toko obat. Praktik antibiotik terlalu dini ini sudah mulai dilakukan dari awal sejak Alexander Flemming menemukan antibiotik pertama di dunia. Penemuan penicilin tahun 1928 langsung memperbaiki angka kematian dan kesakitan dari banyak penyakit yang dahulu memang didominasi oleh penyakit infeksi bakteri. Sayangnya, lama-lama antibiotik menjadi obat wajib karena banyak yang merasa belum ‘sah’ kalau belum dapat antibiotik waktu berobat.

Percaya atau tidak, Flemming sendiri sudah memprediksikan akan datang saatnya dimana obat yang ditemukannya akan kehilangan efek terhadap infeksi bakteri. Karena bakteri akan ‘mempelajari’ cara kerja antibiotik dan berevolusi untuk mengatasinya. Artinya, bakteri memiliki bakat untuk menjadi kebal terhadap antibiotik. Dan benar saja, dengan praktik antibiotik yang sekedar menjadi obat rutin, sekarang sudah banyak bakteri yang mengalami resistensi atau kekebalan terhadap berbagai antibiotik.

Percaya atau tidak lagi, berbagai penelitian sudah dilakukan untuk meneliti efek antibiotik terhadap penyakit flu atau infeksi saluran pernafasan atas yang beken dengan sebutan ISPA, atau batuk pilek. Dan semua menyimpulkan bahwa tidak pada tempatnya antibiotik diberikan terlalu awal dalam perjalanan penyakit flu. Kesimpulan lain adalah tidak ditemukan perbedaan dari lama gejala flu antara mereka yang diberikan antibiotik dengan mereka yang tidak.

Alasan utama adalah karena hampir semua flu disebabkan oleh virus, bukan bakteri. Dan antibiotik memiliki efek hanya terhadap bakteri, tidak ada efek terhadap virus. Ada beberapa orang yang mengaku bahwa kalau flu, dengan minum antibiotik rasanya lebih cepat sembuh. Sekali lagi, sudah ada penelitian yang mempelajari ribuan pasien; dan hasil yang didapat adalah tidak ada cukup bukti bahwa pemberian antibiotik memiliki manfaat terhadap perjalanan penyakit flu, baik kepada dewasa atau anak-anak. Selain itu, malah ada peningkatan efek samping yang signifikan terkait dengan pemberian antibiotik.

Karena flu sudah biasa, beberapa orang merasa aneh dan lemah rasanya kalau sampai harus istirahat total (bedrest) dan absen dari pekerjaan atau sekolah hanya karena flu, padahal memang mereka benar-benar merasa sakit. Yang lain malah memanfaatkan flu sebagai alasan untuk istirahat walaupun sebenarnya gejala yang ada sekedar meler dan gatal di tenggorokan.

Memang ada 2 tipe flu: tipe common cold dan flu yang sebenarnya/influenza.

  • Tipe common cold kadang disebut sebagai selesma. Gejalanya antara lain meler, hidung tersumbat, batuk-batuk, gatal atau sakit tenggorokan, badan terasa agak hangat, sama pegal-pegal di badan dan anggota gerak. Ada lebih dari 250 virus yang sudah terbukti dapat menimbulkan common cold. Gejala penyakit ini biasanya timbul secara perlahan dan akan sembuh sendiri dalam kurun waktu 10 hari. Virus MERS yang sempat mewabah di Korea Selatan tahun ini sebenarnya termasuk kelompok virus yang dapat menimbulkan common cold.
  • Sedangkan flu yang sebenarnya (influenza) disebabkan oleh hanya 1 keluarga virus, yaitu virus influenza, ada tipe A, tipe B, dan tipe C. Namun tipe C tidak pernah menimbulkan wabah flu sehingga banyak dikatakan penyebab flu adalah 2 tipe virus yaitu Virus Influenza tipe A atau tipe B. Wabah flu yang pernah ada di dunia, seperti flu babi adalah sub tipe dari tipe A virus Influenza.

    sumber: drbrianbenedict.files.wordpress.com

Untuk tipe flu yang sebenarnya ini, gejalanya kurang lebih sama seperti common cold tapi munculnya lebih mendadak. Baru satu dua hari, sudah berat gejalanya. Selain itu panasnya cenderung lebih tinggi dibanding common cold (bisa lebih dari 39°C). Untuk flu ini, memang harus pakai istirahat. Pada individu yang sehat, sebenarnya penyakit ini juga akan sembuh sendiri, tetapi pada mereka yang daya tahan tubuhnya lemah karena beberapa penyakit tertentu seperti HIV/AIDS, kencing manis, atau penyakit kronis lainnya, atau sudah ada masalah pada paru-paru sebelumnya, flu ini dapat berakibat fatal.

Nah, buat yang daya tahan tubuhnya normal, karena antara common cold dan flu akan sembuh sendiri, cukup minum obat untuk mengurangi gejala tanpa minum antibiotik kecuali ada indikasi yang mendukung. Minum obat pun harus disesuaikan dengan gejala yang ada. Kalau tidak ada batuk, jangan minum kemasan obat flu yang ada obat batuknya.

sumber: abcnews.go.com

Obat-obat flu biasanya dapat dibeli bebas di apotek, tapi tidak diperbolehkan untuk anak di bawah umur 2 tahun. Di Amerika, pada tahun 2007, FDA (semacam badan POM di sana) menarik obat-obat flu untuk bayi dari pasaran OTC / over the counter (obat bebas). Obat flu untuk dewasa dan anak-anak pun diberi label peringatan agar tidak diberikan pada mereka yang di bawah 2 tahun, karena efek samping yang dapat berakibat fatal seperti kelainan irama jantung, kejang, penurunan kesadaran, bahkan sampai kematian.

Nah, sering denger saran untuk konsumsi vitamin C atau Echinacea saat flu demi mengurangi tingkat keparahan flu dan mempercepat penyembuhan?

Perdebatan vitamin C dapat mencegah dan meringankan penyakit flu sudah terjadi lebih dari 70 tahun. Sementara Echinacea sendiri sebenarnya adalah herbal yang turun temurun digunakan oleh suku Indian Amerika asli untuk pengobatan gejala pernafasan. Tahun 1916 sampai 1950, Echinacea sempat resmi masuk ke dalam formularium (daftar obat nasional resmi) Amerika. Tetapi dengan penemuan antibiotik dan kurang bukti klinis untuk khasiat herbal ini, popularitasnya mulai turun. Sekarang, banyak orang mulai melirik lagi karena fakta bahwa antibiotik tidak membantu perjalanan penyakit flu.

sumber: pharmapoli.com

Sekarang ini, sudah cukup banyak studi klinis yang mempelajari efek keduanya.  Walaupun masih ada simpang siur hasil yang didapatkan antar studi, beberapa penelitian maupun guideline merekomendasikan penggunaan keduanya dengan beberapa catatan tertentu. Untuk vitamin C, dalam studi bertahun-tahun melibatkan ribuan peserta, setelah menganalisis hasil yang ada serta fakta bahwa vitamin C tidak mahal dan relatif aman, penggunaan vitamin C pun mendapat rekomendasi. Tapi efek vitamin C yang positif dapat dinikmati bila dikonsumsi secara rutin, baik pada dewasa maupun pada anak-anak usia 4 tahun ke atas. Efek positifnya konsumsi rutin dapat memperpendek lama gejala flu. Guideline kedokteran keluarga di Amerika tahun 2012 merekomendasi konsumsi sekitar 40 hari hingga 28 minggu. Jadi kalau mendadak flu lalu baru minum vitamin C, ngga akan ada pengaruhnya menurut studi ilmiah. Nah, untuk menyambut musim flu, ada baiknya yang ngga biasa minum vitamin C, bisa coba minum vitamin C.  Dosis yang dianjurkan untuk pencegahan pada dewasa adalah 250 – 1000 mg/hari. Tidak direkomendasikan lebih dari itu, dan batas maksimum adalah 2000 mg/hari.

Sedangkan untuk Echinacea, masih belum ada kesepakatan resmi, tetapi memang banyak studi ilmiah menyebutkan bahwa konsumsi Echinacea di awal perjalanan penyakit, dalam arti saat gejala baru muncul dapat menurunkan tingkat keparahan gejala. Namun resminya, semua masih menyimpulkan masih belum ada cukup bukti klinis untuk merekomendasikan Echinacea.

Dan yang juga sedang banyak dipromosikan adalah vaksin influenza. Sejak virus influenza ditemukan tahun 1933, sejak tahun 1942 vaksin untuk influenza sudah mulai diperkenalkan. Dan tahun 1973 WHO mulai merekomendasikan vaksin influenza setahun sekali, karena ada perbedaan penyebab flu  oleh tipe virus Influenza dan galurnya yang selalu berganti tiap tahun. Tahun 2010, CDC merekomendasikan vaksinasi flu secara universal di Amerika bagi mereka yang berusia 6 bulan ke atas, terutama bagi mereka yang lanjut usia, mengalami penurunan daya tahan tubuh, dan ada penyakit paru sebelumnya. Bagaimana di Indonesia? Masih belum ada rekomendasi resmi dari berbagai institusi resmi, tetapi ikatan dokter anak Indonesia (IDAI) mulai memberikan edukasi mengenai vaksinasi untuk influenza sebagai rekomendasi optional, bukan wajib.

sumber: sharpschool.com

Yang sudah divaksinasi flu, mungkin masih bisa mengalami gejala flu ringan, karena vaksin tersebut tidak melindungi terhadap 250 virus yang dapat menyebabkan common cold.

Flu memang dapat diobati sendiri, tapi kalau sudah ada gejala seperti ini, lebih baik langsung memeriksakan diri ke dokter, antara lain

  • panas lebih dari 38.4°C tidak membaik dengan obat penurun panas lebih dari 3 hari
  • hidung tersumbat lebih dari 2 minggu
  • tidak bisa makan dan minum
  • sesak atau dan nyeri dada
  • telinga sakit, terasa
  • ada gejala lain di luar gejala flu

Terutama untuk bayi, bila sudah malas minum, segera dibawa ke dokter. Pada anak-anak di bawah 2 tahun, jangan diberikan obat untuk flu secara bebas. Pemberian minum juga secukupnya saja, jangan berlebihan karena pada beberapa kasus dapat menimbulkan hiponatremia (salah satu kelainan elektrolit dalam darah).

Sudah cukup panjang ya tentang flu, semoga dapat bermanfaat. Pencegahan selalu lebih baik, antara lain dengan menutup hidung saat batuk atau bersin, (bila memungkinkan) mengurangi kontak dengan yang sedang sakit atau mengenakan masker, tidak memegang hidung dan muka sembarangan, dan mencuci tangan setelah dari luar rumah. Tolong diingat juga tidak usah buru-buru minta antibiotik kalau ke dokter.

post_eaad_message

Catatan terakhir, info ini tidak untuk menggantikan praktik kedokteran. Bila hendak mengkonsumsi vitamin C atau Echinacea dan ada obat lain yang diminum, silakan konsultasi lebih dulu ke dokter atau apoteker.

Terima kasih sudah membaca sampai akhir 🙂

Selamat menjelang musim hujan, semoga tetap sehat selalu!

Sumber penelitian antibiotik tidak direkomendasikan (bahasa Inggris): http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12137610)

Sumber rekomendasi OTC tidak untuk anak bawah 2 tahun (bahasa Inggris): http://www.fda.gov/ForConsumers/ConsumerUpdates/ucm048682.htm

Sumber penelitian dan rekomendasi vitamin C (bahasa Inggris):

  1. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23440782
  2. http://www.aafp.org/afp/2012/0715/p153.html

Sumber penelitian Echinacea (bahasa Inggris): https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/natural/981.html

Sumber rekomendasi vaksin influenza (bahasa Inggris dan bahasa Indonesia):

  1. http://www.cdc.gov/flu/protect/keyfacts.htm
  2. http://www.medscape.com/viewarticle/812621
  3. http://idai.or.id/wp-content/uploads/2014/08/IVO-Influenza-.pdf
2

Rokok (tidak) Tidak Berbahaya

a_cigarette_above_a_flameSudah beberapa bulan berselang sejak saya mencoba melihat rokok dari segi ekonomi. Kalau mau dilihat dari segi kesehatan, sebenarnya tidak butuh satu artikel untuk memberi tahu bahwa rokok berbahaya. Semua orang sudah tahu bahwa rokok berbahaya. Coba pilih satu orang secara acak yang sedang melintas di stadion Senayan, misalnya. Kalau ditanya apakah rokok itu berbahaya, 99% kemungkinan dia akan mengangguk. Coba tanya lagi, bahayanya apa kira-kira ya pak/buk/mas/mbak/dek? Menurut saya, kemungkinannya lebih dari 50% akan menjawab serangan jantung, kanker, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Bagaimanapun, itu lah yang digembar-gemborkan di setiap bungkus rokok yang dijual.

Memberi tahu rokok itu berbahaya memang mudah. Namun, membuat orang berhenti merokok karena tahu rokok itu berbahaya – itu seperti mengukur jarak dari Sabang sampai Merauke dengan bermodalkan penggaris 30 centimeter. Bukan tidak mungkin. Tapi susahnya minta ampun.  Kenapa susah? Karena lawannya adalah nikotin – zat aktif yang ada di dalam tembakau. Nikotin akan berinteraksi langsung dengan otak, bila dihirup, dalam hitungan detik – tepatnya 7 detik menurut para ahli. Atau, sekitar selama 5 kali detak jantung. Saat saya bilang berinteraksi langsung, hal ini berarti otak terpapar langsung dengan nikotin.

neon-brain

Dalam sekian banyak keajaiban otak, salah satu yang penting adalah bahwa tidak semua zat yang mendekat ke otak dapat berinteraksi langsung dengannya. Di dalam otak, terdapat sistem ketat yang memilah apa saja yang dapat mencapai otak. Beberapa zat yang dapat berinteraksi dengan otak, mereka memiliki jalur khusus, atau dalam istilah yang lebih ilmiah, reseptor. Mereka seperti tamu istimewa yang disambut dengan mobil khusus. Yah, setidaknya, bagi otak, nikotin adalah tamu istimewa. Saat nikotin sudah berinteraksi dengan otak, akan keluarlah zat yang disebut Dopamin. Saat dopamin diproduksi dalam otak, otomatis sang pemilik otak akan merasa bahagia. Dan, semua orang suka menjadi bahagia. Itulah sebabnya sangat susah menyuruh orang berhenti merokok. Dalam istilah lain, bagi para perokok mungkin sama saja dengan menyuruh mereka berhenti bahagia.

Nah, permasalahannya kemudian, seperti banyak jalan menuju Roma, banyak jalan pula menuju bahagia. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan dopamin terpancing keluar. Menghisap nikotin bukanlah satu-satunya cara untuk menjadi bahagia. Tapi kenapa setiap perokok merasa berat untuk meninggalkan rokok?

Ada beberapa penelitian yang berusaha menjelaskannya. Saya mencoba untuk membaca dan memahaminya, tetapi bukan tidak mungkin saya ternyata salah menangkap penjelasan dari jurnal yang memuat penelitian tersebut, karena bagi saya penjelasannya terlalu ilmiah dan rumit. Saya sangat menghargai bila ada yang bersedia mengkoreksi pernyataan saya berikut bila ternyata saya salah. Berikut link penelitian yang saya baca:

http://www.jneurosci.org/content/25/23/5563.full

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10336551

Saya sudah mengatakan bahwa ada reseptor untuk nikotin di dalam otak. Ada yang tahu berapa jumlahnya? Saya bertanya karena saya juga tidak tahu. Yang saya tahu, jumlah reseptor nikotin akan meningkat menjadi semakin banyak apabila reseptor tersebut bolak-balik bertemu dengan nikotin. Dan bolak-balik bertemu nikotin ini tak lain tak bukan adalah bolak-balik merokok. Dengan merokok terus-menerus, jumlah reseptor nikotin dalam otak akan meningkat.

Dunia kedokteran tidak pernah mengatakan bahwa otak adalah organ yang sederhana. Jadi mohon maaf kalau bahasa yang saya gunakan pun tak bisa lebih sederhana lagi. Walaupun otak bukan organ terbesar dalam tubuh, tapi pembagiannya adalah yang paling rumit. Yang paling dasar, otak bisa dibagi menjadi otak depan, otak tengah, otak belakang, dan sumsum tulang belakang. Pembagian tersebut pun masih dibagi lagi. Tapi bagian otak yang mana termasuk yang depan, tengah, dan belakang tidak akan saya sebutkan disini karena saya sendiri juga sudah lupa. 😛

Jadi menurut salah satu penelitian yang saya coba baca, peningkatan jumlah reseptor nikotin di daerah otak depan dapat mengubah efek yang dimiliki nikotin terhadap si perokok. Lebih spesifiknya, sel saraf si perokok, sehingga meningkatkan efek stimulan pada sistem saraf (yang berarti dapat meningkatkan performa kerja sistem saraf). Hal ini seperti menambah kecepatan jaringan fiber optic. Transfer data yang menjadi lebih cepat itu ibarat manusia yang dapat berfungsi menjadi lebih cepat dan lebih baik. Namun, penambahan jumlah reseptor ini juga akan mengubah reaksi perokok terhadap si nikotin. Akan terjadi perubahan fisiologis dan psikologis bila tidak mendapat asupan nikotin. Apabila nikotin tidak tersedia, selain sistem saraf yang rasanya bekerja menjadi lebih lamban, badan terasa menjadi tidak enak dan emosi pun berubah.

Sebenarnya, saat dibilang rokok itu berbahaya, yang paling berbahaya bukan nikotin-nya. Tetapi zat-zat lain yang ada di dalam rokok. Pertanyaannya kemudian, apa saja yang ada di dalam rokok? Semua banyak mengatakan ada 4.000 lebih zat kimia berbahaya di dalam rokok, mulai dari yang namanya sedikit familier seperti amonia sampai yang bahkan sulit untuk diucapkan glycyrrhizin.

Tapi menurut saya, yang terdapat di dalam rokok secara gamblang bisa dijawab dengan singkat. Hanya 2. Bukan 4.000, tetapi 2. Baik sebelum dibakar maupun setelahnya, rokok memiliki dua komponen. Sebelum dibakar, 2 komponen tersebut adalah bahan adiktif dan bahan aditif. Walau namanya mirip, tetapi artinya tidak sama. Adiktif – memiliki akar kata Latin dicere yang serupa maknanya dengan diktator atau mendikte. Secara umum, semua orang mengenal arti kata adiktif sebagai sifat kecanduan. Sementara aditif berarti merupakan zat tambahan.

Untuk bahan adiktif, tentu saja pemerannya hanya satu: tembakau yang mengandung nikotin. Sementara untuk bahan aditif, pemerannya macam-macam. Perannya pun macam-macam. Ada yang berperan sebagai pengatur tingkat keasaman rokok (sebagai informasi, rokok yang memiliki tingkat keasaman rendah – dengan kata lain bersifat basa – akan memiliki tingkat nikotin bebas yang lebih tinggi sehingga apabila dibakar dan dihisap, akan terasa lebih ‘nendang’. Peran lainnya yaitu penambah rasa, pemanis, pelembab, pengatur pembakaran (supaya pembakaran tidak terlalu cepat atau lama dan asap yang dihasilkan menjadi lebih halus), pengatur porsi tar dan nikotin, pengawet, pengisi supaya lebih padat, dan pelarut.

Mengapa dibutuhkan begitu banyak zat tambahan? Saya pernah bertanya-tanya demikian. Mungkin, saya ingin menjawab sendiri pertanyaan saya demikian: cara mengkonsumsi rokok adalah dengan membakarnya. Dan bahan-bahan yang dapat dibakar harus mempunyai zat hidrokarbon – senyawa dengan hidrogen dan karbon. Nah, rumus bangun kimia nikotin adalah alkaloid – senyawa dengan hidrogen, karbon, dan nitrogen. Dengan demikian, nikotin mungkin tidak dapat terbakar begitu saja. Dibutuhkan zat lain untuk membantu pembakarannya (mungkin). Dan untuk mengantarkan bahan aktif nikotin yang telah dibakar dan terdispersi ke pembuluh darah, juga dibutuhkan  zat lain. Saya bukan ahli kimia, jadi tidak begitu paham. Hanya mencoba untuk menganalisa mengapa dibutuhkan begitu banyak zat tambahan untuk mengkonsumsi rokok.

Sementara setelah dibakar, rokok akan menghasilkan dua bahan berbahaya: tar dan karbonmonoksida. 

Karena artikel ini menurut saya sudah cukup bikin kepala sedikit berputar bagi saya untuk mengumpulkan bahan, dan mungkin juga bagi yang membaca, mungkin cukup untuk sementara dan akan saya lanjutkan lagi kemudian.

Aside
0

Image

Kalau skema rokok adalah sebuah ring tinju dimana petarungnya adalah Ekonomi di sisi merah dan Kesehatan di sisi biru, kira-kira siapa yang akan memenangkan pertandingan?

Mungkin pertandingan bisa berlangsung kusut dan kolot – seperti sekarang dimana sekian banyak promosi rokok terus disambut kampanye anti rokok. Namun, mungkin pemenang dari pertandingan ini sudah ditentukan dari awal secara gamblang – mengingat sampai saat ini masih belum ada wasit yang kompeten untuk memimpin jalan pertandingan secara adil (baca: pemerintah). Tidak adil untuk siapa? Semua sudah tahu jawabannya.

Saat ini, saya mau mencoba melihat masalah rokok dari kedua belah pihak. Tentu yang pertama dari pihak ekonomi. Jujur, saya tidak cukup mengerti masalah ekonomi. Tapi saya merasa ada yang cukup aneh dari fenomena industri rokok yang selalu mengeluarkan dalih berbau ekonomi demi keberlangsungan nyawa industri rokok.

Kalau masalah rokok selalu dikaitkan dengan tindakan mengatasnamakan ekonomi – seperti bagaimana dengan nasib para petani dan pekerja yang menggantungkan hidup mereka pada industri rokok yang katanya mencapai 8 juta orang di Indonesia dan lagi mereka juga memiliki keluarga untuk dinafkahi – lantas siapa yang memikirkan nasib keluarga dari mereka yang meninggal karena penyakit akibat merokok?

Pihak lembaga resmi pengawas makanan dan obat di Amerika (FDA) pernah mengeluarkan pernyataan bahwa rokok adalah satu-satunya produk konsumen yang bila dipakai sesuai dengan tujuannya, akan membunuh setengah dari total konsumen yang setia mengkonsumsinya dalam jangka panjang.

Lalu pada bulan Juni 2012, di situs menkokesra.go.id terdapat berita  bahwa menurut data WHO terakhir, jumlah perokok di Indonesia menduduki peringkat ketiga terbanyak di dunia. Dari sekitar 1,3 miliar perokok di dunia, sekitar 4,8% dari angkat tersebut berasal dari Indonesia. Dan angka 4,8 % dari 1,3 miliiar adalah 62.400.000.

Kalau pernyataan FDA dan WHO digabung dan ditelaah secara matematika, dengan diketahui jumlah perokok di Indonesia diperkirakan mencapai 62.400.000 perokok – berapakah yang akan menjadi korban?

Jawabannya cukup mudah. Setengah dari sekitar 60 juta berarti ada sekitar 30 juta perokok yang akan menjadi korban.

Kemudian, siapa yang akan mengatasnamakan anak istri atau suami dari 30 juta perokok yang menjadi korban? Bagaimana dengan nasib mereka?

Bila angka 8 juta orang dibayar dengan angka 30 juta orang, ekonomi siapa yang sebenarnya diuntungkan?

Image

Selama ini, industri rokok dibanggakan sebagai pembangun ekonomi dengan menyumbang pajak yang besar untuk negara, membangun sekolah, yayasan olahraga, bahkan pusat perbelanjaan. Dan tentu saja uang tersebut berasal dari para konsumen yang membeli rokok dengan setia. Saat mereka membeli rokok, mereka secara tidak langsung ikut membangun ekonomi negara. Sayangnya, para perokok di Indonesia kebanyakan masih berasal dari kalangan menengah ke bawah.

Dalam pelajaran ekonomi, dikenal kebutuhan primer, sekunder, dan tersier.  Rokok tidak termasuk dalam kebutuhan primer (yang selalu dikenal dengan trias sandang, pangan, papan). Pun tidak masuk dalam kebutuhan sekunder. Sayangnya, tanpa menggubris kebutuhan primer dan sekunder, penghasilan yang minim pun biasanya masih tetap dianggarkan untuk  biaya rokok – yang mungkin bagi para perokok sudah bertransformasi dari kebutuhan terakhir menjadi kebutuhan primer.

Penghasilan yang dihabiskan untuk membeli rokok daripada membayar pendidikan anak, untuk membeli susu anak, atau mainan baru bagi anak itulah yang kemudian dinikmati menjadi pajak besar bagi negara, jadi pusat perbelanjaan, jadi sekolah, jadi yayasan olahraga, juga jadi sponsor acara olahraga dan musik.

Saat anak tidak mendapat pendidikan, kemana nasibnya akan menuju? Saat itulah pemerintah dituntut untuk mengadakan sekolah gratis dan bantuan dana pendidikan. Akhirnya anggaran negara harus diperbesar untuk kepentingan pendidikan masyarakat.

Saat perokok jatuh sakit (dimana penyakit akibat merokok sangat beragam dari penyakit jantung, paru, kanker paru, kanker hati, kanker usus, kanker  kandung kemih, katarak, dan masih banyak) dan akhirnya tidak dapat mencari penghasilan, kemana nasibnya akan menuju? Saat itulah pemerintah dituntut untuk mengadakan pelayanan kesehatan gratis dan bantuan dana kesehatan. Akhirnya anggaran negara harus diperbesar untuk kepentingan kesehatan masyarakat.

Jadi, ekonomi negara sebenarnya dibangun atau dikuras? Lebih pokok lagi, industri rokok sebenarnya membangun ekonomi atau merampok generasi?

Mungkin ada pihak yang akan berkelit bahwa tidak semua perokok di Indonesia adalah perokok jangka panjang, sehingga seharusnya angka korban harusnya menjadi lebih rendah – sehingga kerugian ekonomi yang disebabkan juga menjadi lebih rendah. Dan bahkan mungkin ada yang mempertanyakan kebenaran pernyataan tersebut. Benarkah rokok akan membunuh setengah dari total konsumennya? Lebih parah lagi, ada yang mempertanyakan, benarkah rokok membunuh?

Bersambung…

0

Antara Pemanasan Global dan Kalkulator Sahabat Lingkungan

Post ini mengutip Majalah Intisari Edisi April 2012 (No. 592) halaman 140 – 143

Hari ini cuaca di Jakarta panas sekali. Tiga hari terakhir pun demikian. Rasanya tidak ada satu minggu atau bahkan satu hari yang lewat tanpa mendengar atau mengucapkan keluhan cuaca panas. Dan setiap orang di belahan bumi Indonesia mungkin mengiyakan kalau ditanya apakah cuaca belakangan tambah panas.

Ketika mencoba mencari tahu berapa suhu bumi sekarang, saya agak bingung. Yang saya kunjungi adalah artikel State of The Climate – Global Analysis March 2012 di sebuah website pemerintah milik Amerika. Saya menemukan istilah rumit seperti temperature anomalis dan grafik-grafik yang juga entah apa artinya. Satu hal yang coba saya pegang adalah kalimat yang bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia berbunyi seperti ini:

“Rata-rata suhu global laut dan daratan untuk bulan Januari – Maret 2012 adalah 0,39°C lebih tinggi dari rata-rata suhu di abad 20.”

Intinya, suhu meningkat sekian derajat celcius. Rasanya angka 0,39 ini kecil sekali, tapi entah kenapa rasanya bumi sudah jauh lebih panas dari biasanya.

Kemudian saya membaca dari wikipedia.org mengenai pemanasan global.  Berdasarkan referensi The Physical Science Basis, Intergovernmental Panel on Climate Change, 5 Februari 2007, dikatakan “Tahun 2100, suhu permukaan global akan meningkat hingga 6,4°C.”

Saya mungkin tidak begitu paham akan ilmu bumi dan sebagainya. Tetapi bila menggunakan logika, dengan peningkatan suhu 0,39°C pada saat ini saja sudah sepanas ini, perkiraan peningkatan suhu sebesar 6,4°C  pada tahun 2100 rasanya seperti kabar buruk yang sangat buruk.

Kemudian saya teringat salah satu artikel yang sempat saya baca di Majalah Intisari yang telah saya sebut di atas. Artikel tersebut mencoba mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap masalah emisi gas rumah kaca, yang ujungnya pada pemanasan global. Sebuah artikel yang menurut saya harus disebarkan, sebagai pencegahan supaya kabar buruk tadi tidak terjadi. Setidaknya diminimalisir  sebisa mungkin.

————————————————————————————————————————————————–

Artikel berjudul Kalkulator Sahabat Lingkungan ini ditulis oleh Nur Resti Agtadwimawanti dan Fenny Christine.

“Perubahan gaya hidup dapat mengurangi emisi gas rumah kaca. Perubahan gaya hidup dan pola konsumsi yang menekankan konversi sumber daya dapat berkontribusi untuk mengembangkan ekonomi yang rendah karbon yang adil dan berkelanjutan,” (Intergovernmental Panel on Climate Change Assessment Report, 2007).

Mungkin sebagian dari kita tak menyadari bahwa gaya hidup dan pola konsumsi tertentu yang kita praktikkan sehari-hari ternyata ikut andil dalam mempercepat pemanasan global. Mudah saja, misalnya penggunaan kendaraan pribadi. Berdasarkan data Technology Needs Asessment pada 2009, kendaraan pribadi menyumbang setidaknya 36% emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi di Indonesia.

Lain lagi sektor energi, sebut saja listrik. Pemakaian listrik menyumbang 12% dari total emisi karbon untuk sektor energi. Ini terjadi karena sebagian besar pembangkit listrik kita masih menggunakan bahan bakar fosil seperti batu bara yang menghasilkan jutaan ton CO2.

“Setiap orang punya andil menyumbang, bukan hanya perusahaan-perusahaan besar di sektor industri saja. Tetapi kita semua,melalui gaya hidup kita sehari-hari,” jelas Imelda, Koordinator Program Institute for Essential Service Reform (IESR).

Itu sebabnya IESR gencar mengampanyekan pola hidup hijau dalam urusan sehari-hari untuk mewujudkan low carbon society atau masyarakat dengan gaya hidup rendah karbon. Menjadi low carbon society sebenarnya tidak sulit, kita bisa memulainya dengan membatasi penggunaan barang elektronik. Misalnya, menyalakan lampu seperlunya saja.

Untuk mendukung proses itu, pada 2010 IESR menciptakan sebuah alat yang bernama Kalkulator Jejak Karbon (KJK). Kalkultor ini berguna untuk memandu kita dalam menghitung jumlah emisi yang kita hasilkan dalam kehidupan sehari-hari (sebagai contoh, menyalakan lampu 10 watt selama 1 jam akan menghasilkan karbon sejumlah 8,91 g).  “Animonya bagus sekali, ternyata ada loh alatnya. Kita juga menjadi sadar bahwa sebenarnya kita berperan dalam mengeluarkan emisi dalam kehidupan sehari-hari,” kata Imelda. KJK ini pun bisa diakses siapa saja secara online di www.iesr.or.id.

Sadar pun tak cukup

Imelda paham betul bahwa sekadar sadar saja ternyata tak cukup. Perlu tingkatan yang lebih tinggi daripada sadar itu sendiri, yaitu komitmen. “Kalau kita hanya sadar, kita tak akan berubah. Berbeda kalau kita memang berkomitmen untuk menurunkan emisi dalam kehidupan kita,” jelasnya.

Melalui KJK pula, IESR mencoba mengajak masyarakat untuk memulai berkomitmen dalam menurunkan emisi.  Jika melihat formulir komitmen menurunkan emisi yang dikumpulkan IESR, hanya ada sekitar 1.000 orang yang bersedia, utnuk area Jakarta – Depok. Tentu ini angka yang kecil dibandingkan dengan populasi di sana. Imelda juga menyadari bahwa ‘euforia’ tentang perubahan iklim sebagian besar ada di kalangan NGO atau pemerintah. Sementara, di kota-kota kecil belum terlalu memasyarakatkan.

Perubahan iklim memang isu yang cukup tinggi. KJK ini bisa jadi merupakan salah satu cara mengedukasi masyarakat dengan cara yang unik. Dengan demikian, masyarakat juga tak malas untuk mempelajarinya.

Tak Hanya Karbondioksida

Imelda menjelaskan, sebenarnya gas rumah kaca itu bukan semata CO2. CO2 ini hanya seuah gas yang dijadikan parameter. Setidaknya ada 6 jenis gas rumah kaca yang tertulis dalam Kyoto Protocol, yaitu Karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitro-oksida (N2O), hidro fluoro klorida (HFC), perfluorokarbon (SF6).

Semua gas ini punya masa urai yang berbeda di atmosfer. CO2, misalnya, bertahan 5.200  tahun di atmosfer, sedangkan CH4 12 tahun.

Selain itu, ada pula potensi pemanasan global yang disebabkan gas rumah kaca tadi. Misalnya antara CO2 dan CH4. Satu ton CH4 ini memiliki potensi pemanasan global sebesar 72x lebih berbahaya dibandingkan satu ton CO2. CH4 ini sering kita jumpai dalam limbah industri.

“Sebenarnya kalau secara kolektif, CH4 ini mempunyai potensi sebagai biogas. Untuk pupuk juga bisa,” tambah Imelda. Kita bisa juga memanfaatkan penghasil gas rumah kaca tadi dengan sebaik mungkin, yang tentunya ramah lingkungan.

Jadi, masalahnya tidak sebatas berapa emisi yang kita hasilkan dan berapa pohon yang perlu kita tanam untuk menggantinya. Ini melibatkan sejarah dan masa depan.

“Sebab CO2 yang dihasilkan berapa puluh tahun yang lalu pun belum tentu telah terurai,” jelas Imelda. Begitu pula CO2 yang kita hasilkan saat ini belum tentu terurai beberapa puluh tahun ke depan. Jadi, tindakan pencegahan jelas lebih baik.

————————————————————————————————————————————————–

Catatan:

Animo: Hasrat yang kuat untuk berbuat, melakukan, atau mengikuti sesuatu ; Semangat (http://www.artikata.com/arti-319094-animo.html)

0

Mengapa doa Malaikat Tuhan diganti menjadi doa Ratu Surga pada Masa Paskah?

Post ini mengutip dari sebuah mingguan Katolik, yaitu Majalah Hidup Edisi 18 Tahun ke-66 29 April 2012 halaman 13 fitur Konsultasi Iman .

Ketika Masa Paskah, mama saya mengingatkan untuk mengganti doa Malaikat Tuhan dengan doa Ratu Surga. Saya agak bingung dengan perubahan tersebut. Namun kemudian saya menemukan jawabannya pada majalah Hidup yang telah disebut di atas.

Mengapa doa Malaikat Tuhan diganti dengan doa Ratu Surga selama Masa Paskah? Dari mana berasal? Sejak kapan hal itu dilakukan? Apa hubungan antara kebangkitan dan Maria sebagai Ratu Surga?’

Ester Kurdianto, Rembang

Pertanyaannya dijawab oleh Dr. Petrus Maria Handoko, CM.

Pertama, perubahan dari doa Malaikat Tuhan (Latin: Angelus) ke doa Ratu Surga (Latin: Regina Coeli) dilakukan karena kesesuaian tema. Doa Malaikat Tuhan merujuk pada misteri Inkarnasi, yaitu ketika “Sabda menjadi manusia dan tinggal di antara kita” sedangkan doa Ratu Surga merujuk pada misteri Paskah, yaitu pemenuhan dari misteri Inkarnasi. Doa Ratu Surga itu sendiri menunjukkan: “Ia yang sudah kau kandung telah bangkit seperti disabdakan-Nya.”

Maka, sudah sepantasnya jika doa Ratu Surga mengambil alih tempat doa Angelus. Doa Ratu Surga melanjutkan sukacita dan kegembiraan kebangkitan dan sekali lagi meneguhkan fakta bahwa Kristus sungguh telah bangkit. Doa ini juga mengungkapkan suatu permohonan kepada Allah Bapa, agar bersama Maria kita dimampukan untuk menikmati sukacita dan kegembiraan kebangkitan Yesus Kristus.

Kedua, perubahan ini terjadi pada tahun 1742, yaitu ketika Paus Benediktus XIV menetapkan bahwa selama Masa Paskah mulai dari hari Raya Paskah sampai dengan Hari Raya Pentakosta, doa Ratu Surga harus didaraskan sebagai ganti doa Angelus. Ada beberapa nada yang mengubah doa Ratu Surga menjadi nyanyian yang sangat indah.

Ketiga, usia doa Ratu Surga sudah sangat tua. Sulit untuk menentukan siapa pengarang doa ini dan dari mana doa ini berasal. Menurut catatan, doa Ratu Surga sudah ada sejak abad XII. Teks musik tertua disimpan di Vatikan, yaitu sebuah manuskrip dari 1171. Sekitar tahun 1200, doa Ratu Surga muncul dalam manuskirp nyanyian tradisional Romawi kuno. Jadi, bukti-bukti historis menunjukkan bahwa doa Ratu Surga sudah ada dalam khazanah kekayaan Gereja sejak waktu yang cukup lama.

Keempat, kebangkitan Kristus menunjukkan kemenangan dan kejayaan Kristus atas kuasa dosa dan kematian. Kejayaan Kristus mengikutsertakan semua orang yang percaya kepada-Nya. Mereka akan “duduk di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel” (Mat 19:28), malah “menghakimi dunia dan malaikat” (1Kor 6:2-3). Mereka memerintah bersama Kristus, seperti dikatakan dalam sebuah kidung tua yang dikutpi 2 Tim 2:12. Karena Maria yang paling unggul di antara semua murid Tuhan, maka secara unggul pula dia diikutsertakan dalam kemenangan Kristus. Itulah artinya gelar “Ratu Surga”. Maria sebagai ibu Yesus Kristus, ikut serta memerintah bersama dengan Kristus di surga. Gelr ini menyatakan kedekatan Maria dengan Kristus yang luar biasa baik di dunia ini, maupun juga di Surga. Maria unggul di antara para kudus (bdk Pus XII, Ad Caeli Reginam, DS 3913-3917).

Gelar sebagai “Ratu Surga” tidak hendak menyatakan Maria sebagai saingan Allah dengan kekuasaan surgawi-Nya. Maria dinyatakan sebagai Ratu justru karena kerendahan hatinya yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk melakukan kehendak Allah. Allah sungguh merajai seluruh diri Maria.

Kelima, seperti dikatakan di atas, doa Ratu Surga sudah ditetapkan berlaku untuk seluruh Gereja pada 1742, jauh sebelum pernyataan dogmatis tentang Maria diangkat ke surga pada 1950 oleh Paus Pius XII. Memang pengauan akan Maria sebagai Ratu Surga sudah ada sejak lama dalam Gereja. Dogma Maria diangkat ke surga sebenarnya hanya mengeksplisitkan kepercayaan Gereja yang sudah lama diungkapkan dalam praktik iman. Pernyataan dogmatis Gereja itu tidak mengubah kenyataan, tetapi hanya mengungkapkan secara resmi ajaran tentang Maria sebagai bagian dari iman yang diwahyukan, karena itu harus dipercayai. Jadi, fakta pengangkatan Maria ke surga sudah terjadi lama sebelum pernyataan dogmatisnya pada 1950.

Doa Ratu Surga mengingatkan kita akan apa yang terjadi pada Bunda kita. Itulah harapan nyata yang juga akan terjadi pada kta yang percaya kepada Putera-Nya.

Ini adalah doa Malaikat Tuhan dan doa Ratu Surga.

Doa Malaikat Tuhan (Puji Syukur no. 15)

Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan, bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus.

Salam Maria…

Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu.

Salam Maria…

Sabda sudah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita

Salam Maria…

Doakanlah kami ya Santa Bunda Allah, supaya kami dapat menikmati janji Kristus.

Marilah berdoa (hening) Ya Allah, karena kabar malaikat kami mengetahui bahwa Yesus Kristus Putera-Mu menjadi manusia; curahkanlah rahmat-Mu ke dalam hati kami, supaya karena sengsara dan salib-Nya, kami dibawa kepada kebangkitan yang mulia. Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami (Amin.)

Doa Ratu Surga (Puji Syukur no. 16)

Ratu Surga bersukacitalah, alleluya,

Sebab Ia yang sudi kaukandung, alleluya,

Telah bangkit seperti disabdakan-Nya, alleluya!

Doakanlah kami pada Allah, alleluya!

Bersukacitalah dan bergembiralah, Perawan Maria, alleluya,

Sebab Tuhan sungguh telah bangkit, alleluya!

Marilah berdoa (hening)Ya Allah, Engkau telah menggembirakan dunia dngan kebangkitan Putra-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus. Kami mohon: Perkenankanlah kami bersukacita dalam kehidupan kekal bersama bunda-Nya, Perawan Maria. Demi Kristus, pengantara kami. (Amin.)

Doa ini diucapkan pada pagi (pukul 06.00), siang (12.00), dan petang (18.00). Doa Malaikat Tuhan didoakan di luar Masa Paskah, doa Ratu Surga didoakan dalam Masa Paskah.